Halaman Utama

Showing posts with label Pendidikan. Show all posts
Showing posts with label Pendidikan. Show all posts

Tuesday, March 21, 2017

Adab

Adab adalah norma atau aturan mengenai sopan santun yang didasarkan atas aturan agama, terutama Agama Islam.[1] Norma tentang adab ini digunakan dalam pergaulan antarmanusia, antartetangga, dan antarkaum.[1] Sebutan orang beradab sesungguhnya berarti bahwa orang itu mengetahui aturan tentang adab atau sopan santun yang ditentukan dalam agama Islam.[1] Namun, dalam perkembangannya, kata beradab dan tidak beradab dikaitkan dari segi kesopanan secara umum dan tidak khusus digabungkan dalam agama Islam.[1] (Ensiklopedi Nasional Indonesia. 2004. Bekasi: Delta Pamungkas. ISBN 979-9327-00-8. Hal.63.)

Adab adalah kehalusan dan kebaikan budi pekerti; kesopanan; akhlak (http://kbbi.web.id/adab)

baca artikel lainnya
https://bintusuratman.blogspot.co.id/2016/10/biografi-syekh-habib-saggaf-bin-mahdi.html
https://bintusuratman.blogspot.co.id/2017/02/wasiat-luqmanul-hakim-dalam-al-quran.html

Wednesday, March 15, 2017

Guru dan Murid


Sebagai Pendidikan jangan pernah bilang lelah mengajar
Karena penyampai ilmu adalah pendidik

Sebagai Murid jangan pernah bilang bosan belajar
Karena murid adalah generasi dari pendidiknya

Jadi pendidik harus ikhlas mengajar
Sedangkan murid harus ikhlas belajar

Sunday, March 12, 2017

Psikologi Remaja Dalam Islam

Remaja adalah masa peralihan dari masa kanak-kanak menuju dewasa, bukan masa transisi yang selama ini digaungkan. Karena mereka dicap tengah mengalami kegamangan, akibatnya, sebagian remaja yang sewaktu kanak-kanak telah dididik dengan baik oleh orangtuanya merasa perlu mencari identitas baru, identitas yang berbeda dari yang mereka miliki sebelumnya. Apa akibatnya ? Ada remaja kita yang terjebak dalam arus coba-coba meniru dalam beberapa hal. Beberapa remaja putri mencoba berbagai dandanan, make up dan aksesoris yang menyeret mereka pada perilaku konsumtif dan kecenderungan tabarruj, sementara yang putra mulai membolos sekolah dan merokok. Beberapa mencandu narkoba dan bergaul terlalu bebas. Serta beberapa dari mereka hanya memanfaatkan kecanggihan teknologi hanya sebatas menghabiskan waktu karena rasa ingin tahunya belum terpuaskan.

Dalam Islam, masa remaja berarti mulainya masa akil baligh. Keadaan fisik, kognitif (pemikiran) dan psikososial (emosi dan kepribadian) remaja berbeda dengan keadaan pada tahap perkembangan lain. Karena sudah baligh, mereka menanggung kewajiban beribadah wajib. Kewajiban menunaikan ibadah wajib ini ditunjang oleh perubahan raga yang makin menguat dan membesar, sekresi hormon baru, dan perubahan taraf berfikir mereka. Namun kematangan organ internal tubuh mereka tidak serta merta membuat mereka lebih matang perasaan dan pemikirannya.

Secara fisik, remaja mampu melaksanakan puasa dan shalat, maupun perjalanan haji, walaupun umumnya mereka belum memiliki kemandirian untuk membayar sendiri zakatnya. Secara kognitif, remaja mampu memaknai makna yang mendalam dari dua kalimat syahadat. Remaja makin mampu menangkap dan memahami konsep-konsep abstrak yang sebelumnya hanya mereka pahami sebagai pengetahuan satu arah. Mereka mampu memaknai ayat dan hadits-hadits yang mereka pelajari sewaktu kecil, dan mampu menangkap fenomena alam sebagai bukti dari keberadaan 4JJ1.

Proses ini bila tidak ditunjang dengan tuntunan dan bimbingan yang tepat, dapat membuat pencarian mereka atas nilai dan tujuan hidup mereka tidak terpenuhi, atau didapat dari sumber lain yang telah terkorosi oleh hawa nafsu manusia dan disesatkan oleh syaithan. Na’udzubillahi min dzalik.

Bagaimana pementor dapat membantu remaja yang dibinanya ?
Pertama, mereka harus diingatkan pada fitrah keislamannya. Tingkatkan keimanan mereka, Buat mereka nyaman berIslam, bersentuhan langsung dengan nilai-nilai kebenaran yang terkandung dalam Islam dan buat mereka patuh akan kewajiban sebagai seorang muslim dengan cara-cara yang baik.

Kedua, bantu remaja untuk mengerti perubahan-perubahan yang dialaminya. Hormon-hormon baru yang mereka miliki menghasilkan dorongan-dorongan fisik yang harus mereka kelola. Mentor dapat membantu mereka untuk menumbuhkan kendali diri (self control) yang Islami. Ajarkan bahwa wudhu dapat menurunkan kemarahan dan meredam emosi, shalat bisa mencegah mereka dari perbuatan keji, dan puasa dapat mematangkan emosi dan menumbuhkan kemandirian mereka. Tumbuhkan Izzah (kebanggaan) mereka sebagai muslim. Dorong mereka untuk menjaga kesehatan, mengapai prestasi, sehingga mereka mampu menjadi qudwah di lingkungannya.

Ketiga, dekatkan mereka pada Al Qur’an. Buat mereka suka berinteraksi dengan Al Qur’an dan terbiasa. Kedekatan remaja dengan Al Qur’an akan menjaga mereka dari pengaruh buruk.
Keempat, tumbuhkan Muraqabah mereka pada 4JJ1. Ingatkan mereka untuk takut pada 4JJ1 dan pengawasannya yang tak pernah henti, tanamkan rasa malu dan ajarkan tentang akhlak tehadap diri sendiri. Mentor dapat lebih membantu dengan memberikan contoh-contoh perilaku yang terpuji yang bisa mereka ikuti

Membahas tentang remaja tidak ada habis -habisnya. Membina remaja tidak ada henti-hentinya. Kita mengharapkan 4JJ1 dapat melapangkan dada-dada mereka untuk mau menerima hidayah yang datang melalui lisan kita, memudahkan usaha kita, mengeratkan hati kita dan mereka, dan semoga, walaupun mungkin lama, 4JJ1 menggabungkan kita dan mereka dalam barisan pengemban risalahNya. Amiin Yaa Rabbal ‘alamin. 

baca juga artikel lainnya :
https://bintusuratman.blogspot.co.id/2016/10/atheis-dan-ulama.html

referensi :
(http://psikologi-remaja-dalam-islam.blogspot.(com)
(http://www.muhammad-sabran.com/2012/10/psikologi-remaja-menurut-islam.html)

Biografi Syekh habib Saggaf bin Mahdi bin Syekh Abu Bakar bin Salim

Beliau lahir di Dompu, Nusa Tenggara Barat dari pasangan terhormat dan mulia, Habib Mahdi bin Idrus bin Syekh Abu Bakar bin Salim dengan Syarifah Balqis binti Hasan bin Solah bin Salim Al Idrus hari rabu, 15 Agustus 1945, dua hari menjelang kemerdekaan Republik Indonesia dan sebagai anak sulung dari sebelas bersaudara.

Beliau mulai memasuki Jenjang pendidikan di Sekolah Dasar dan Sekolah menengah Pertama di tanah kelahirannya. Di dalam masa sekolahnya Beliau dikenal sebagai anak cerdas serta selalu mendapatkan nilai tertinggi di kelasnya. Hal ini pun terlihat dari banyaknya teman beliau yang sengaja datang ke rumahnya untuk minta diajarkan.

Suatu ketika tengah tertidur di pangkuan ibunya, beliau bermimpi langit bolong (terbelah) dan muncul suara memanggil – manggil namanya. Ketika ia terbangun, diceritakan kejadian dalam mimpi itu kepada Ibuanya. Serentak sang Ibu menjawab  “kau akan pergi jauh”. Sore itu juga beliau dikabarkan akan berangkat ke Malang diantar Habib Abu Bakar Al Mukhdor, seorang pedagang kuda yang juga teman dekat Habib Mahdi yang bermukim di Situbondo.

Gaya hidupnya yang serba berkecukupan berubah total ketika mulai menapakkan kakinya untuk menuntut ilmu Allah pada  Guru besar Pondok Pesantren Darul Hadist, Al Habib Abdul Qadir Bil Fagih di Malang selama 13 tahun. Pada masa pembelajarannya Beliau sagatlah rajin dan perihatin, setiap hari beliau  menyapu dan membersihkan lingkungan pondok. Waktunya tak pernah beliau lalui kecuali hanya untuk ilmu. Karena kesungguhannya dalam belajar, hanya dalam waktu dua tahun delapan bulan Beliau sudah diangkat mengajar fikih, nahwu, hadits, bahasa Arab dan cabang ilmu lainnya serta menjadi pengajar paling disukai karena kelebihannya dalam public speakinghingga banyak santri yang tidak ingin melewatkan mata pelajaran yang beliau ajarkan.

Setelah lulus di Pesantren Darul Hadits beliau pergi ke timur tengah, berguru pada Syekh Muhammad Balqaid di Aljazair selama 9 bulan. Dan di Bahrain selama 6 bulan. Selanjutnya beliau berguru kepada Syekh Nadimul ‘Ash di Baghdad, Irak selama 9 bulan dan I’tikaf di masjidil haram, Mekkah  kepada Syekh Ahmad Assaggaf  selama 5 tahun.

Atas dasar petunjuk dari Rasulallah Saw, beliau diminta kembali ke Indonesia karena di sanalah ada barakat. Beliau kemudian mendirikan Pondok Pesantren Ar-Rahman di dompu. Setelah itu, beliau mendirikan juga Pondok Pesantren internasional Nurul Ulum di Kali Mas Madya, Surabaya. Pondok Pesantren Nurul Ulum banyak menerima murid dari Singapura, Malaysia, Brunei Darussalam, dan Afrika. Sejak saat itu, undangan ceramah banyak datang dari negara tetangga. Ratusan ribu jama’ah selalu memadati majelis beliau baik di Singapura maupun negara lainnya.

Kesempurnaan ilmunya di semua bidang, menuntut Beliau untuk mengeluarkan fatwa tentang permasalahan agama yang terkini, dan salah satu fatwanya adalah berkenaan ginjal dan Beliau menjadi orang pertama yang menfatwakan bahwa organ tubuh manusia boleh di transfer ke orang lain, sedang banyak ulama termasuk mufti singapura yang tidak sepakat dengan pandangannya pada saat itu, sehingga masalah merambat kepada lembaga pendidikannya yang lantas ditutup serta membatasinya pemerintah singapura kepada dakwah beliau.

Akhirnya tahun 1980 an Beliau memutuskan untuk membuka Majlis Ta’lim di Bintaro, Jakarta tepatnya di masjid agung bintaro. Jamaahnya mencapai ribuan orang bahkan sampai memenuhi hingga keluar masjid. Namun tahun 1998 Negara  Indonesia mengalami krisis ekonomi, berbagai konplik pun mulai muncul di Jakarta sehingga hal ini berdampak juga dengan keadaan keamanan di bintaro. Akhirnya 14 Mei 1998 Beliau Habib Saggaf bin Mahdi bin Syekh Abu Bakar bin Salim beserta Istri tercinta Umi Waheeda memutuskan untuk tinggal di Parung Bogor, dan mulai merintis untuk mendirikan Pondok Pesantren Al ashriyyah Nurul Iman.

Beliau wafat pada hari Jumat, 12 November 2010 bertepatan 05 Dzul Hijjah 1430 H. Meninggalkan sejuta jejak indah untuk diteladani oleh para santri dan kini estafet kepemimpinan Pondok Pesantren Al Ashriyyah Nurul Iman berada di tangan sang istri tercinta, Umi Waheeda binti Abdul Rahman, S.Psi, M.Si, bersama tujuh anaknya.

baca artikel lainnya :

referensi:
(www.nuruliman.or.id)

Wasiat Luqmanul Hakim dalam Al Qur'an


asy-Syaikh Muhammad bin Jamil Zainu
Allah Subhanahu wata’ala berfirman mengabarkan tentang wasiat Luqman kepada putranya, yaitu Luqman bin ‘Unaqa’ bin Sadun. Sedangkan nama putranya adalah Tsaran, menurut satu pendapat yang diceritakan oleh as-Suhaily. Allah Subhanahu wata’ala telah menyebutkannya dengan sebaik-baik sebutan dan diberikannya dia hikmah. Dia memberikan wasiat kepada putranya yang merupakan orang yang paling dikasihi dan dicintainya, dan ini hakikat dianugerahkannya ia dengan sesuatu yang paling utama. (Lubaabut Tafsiir min Ibni Katsir, Syaikh Abdullah bin Muhammad bin Abdurrahman bin Ishaq alu-Syaikh)
INILAH WASIAT-WASIAT BERMANFAAT LUQMAN AL-HAKIM YANG ALLAH CERITAKAN:
وَإِذْ قَالَ لُقْمَانُ لابْنِهِ وَهُوَ يَعِظُهُ يَا بُنَيَّ لا تُشْرِكْ بِاللَّهِ إِنَّ الشِّرْكَ لَظُلْمٌ عَظِيمٌ. وَوَصَّيْنَا الإنْسَانَ بِوَالِدَيْهِ حَمَلَتْهُ أُمُّهُ وَهْنًا عَلَى وَهْنٍ وَفِصَالُهُ فِي عَامَيْنِ أَنِ اشْكُرْ لِي وَلِوَالِدَيْكَ إِلَيَّ الْمَصِيرُ. وَإِنْ جَاهَدَاكَ عَلى أَنْ تُشْرِكَ بِي مَا لَيْسَ لَكَ بِهِ عِلْمٌ فَلا تُطِعْهُمَا وَصَاحِبْهُمَا فِي الدُّنْيَا مَعْرُوفًا وَاتَّبِعْ سَبِيلَ مَنْ أَنَابَ إِلَيَّ ثُمَّ إِلَيَّ مَرْجِعُكُمْ فَأُنَبِّئُكُمْ بِمَا كُنْتُمْ تَعْمَلُونَ. يَا بُنَيَّ إِنَّهَا إِنْ تَكُ مِثْقَالَ حَبَّةٍ مِنْ خَرْدَلٍ فَتَكُنْ فِي صَخْرَةٍ أَوْ فِي السَّمَاوَاتِ أَوْ فِي الأرْضِ يَأْتِ بِهَا اللَّهُ إِنَّ اللَّهَ لَطِيفٌ خَبِيرٌ. يَا بُنَيَّ أَقِمِ الصَّلاةَ وَأْمُرْ بِالْمَعْرُوفِ وَانْهَ عَنِ الْمُنْكَرِ وَاصْبِرْ عَلَى مَا أَصَابَكَ إِنَّ ذَلِكَ مِنْ عَزْمِ الأمُورِ. وَلا تُصَعِّرْ خَدَّكَ لِلنَّاسِ وَلا تَمْشِ فِي الأرْضِ مَرَحًا إِنَّ اللَّهَ لا يُحِبُّ كُلَّ مُخْتَالٍ فَخُورٍ. وَاقْصِدْ فِي مَشْيِكَ وَاغْضُضْ مِنْ صَوْتِكَ إِنَّ أَنْكَرَ الأصْوَاتِ لَصَوْتُ الْحَمِيرِ
“Dan (ingatlah) ketika Lukman berkata kepada anaknya, di waktu ia memberi pelajaran kepadanya: “Hai anakku, janganlah kamu mempersekutukan (Allah) sesungguhnya mempersekutukan (Allah) adalah benar-benar kelaliman yang besar. Dan Kami perintahkan kepada manusia (berbuat baik) kepada dua orang ibu-bapaknya; ibunya telah mengandungnya dalam keadaan lemah yang bertambah-tambah, dan menyapihnya dalam dua tahun. Bersyukurlah kepada-Ku dan kepada dua orang ibu bapakmu, hanya kepada-Kulah kembalimu. Dan jika keduanya memaksamu untuk mempersekutukan dengan Aku sesuatu yang tidak ada pengetahuanmu tentang itu, maka janganlah kamu mengikuti keduanya, dan pergaulilah keduanya di dunia dengan baik, dan ikutilah jalan orang yang kembali kepada-Ku, kemudian hanya kepada-Kulah kembalimu, maka Ku-beritakan kepadamu apa yang telah kamu kerjakan. (Lukman berkata): “Hai anakku, sesungguhnya jika ada (sesuatu perbuatan) seberat biji sawi, dan berada dalam batu atau di langit atau di dalam bumi, niscaya Allah akan mendatangkannya (membalasinya). Sesungguhnya Allah Maha Halus lagi Maha Mengetahui. Hai anakku, dirikanlah salat dan suruhlah (manusia) mengerjakan yang baik dan cegahlah (mereka) dari perbuatan yang mungkar dan bersabarlah terhadap apa yang menimpa kamu. Sesungguhnya yang demikian itu termasuk hal-hal yang diwajibkan (oleh Allah). Dan janganlah kamu memalingkan mukamu dari manusia (karena sombong) dan janganlah kamu berjalan di muka bumi dengan angkuh. Sesungguhnya Allah tidak menyukai orang-orang yang sombong lagi membanggakan diri. Dan sederhanalah kamu dalam berjalan dan lunakkanlah suaramu. Sesungguhnya seburuk-buruk suara ialah suara keledai.” (Luqman: 13-19)
PENJELASAN
1. Jangan berbuat syirik
وَإِذْ قَالَ لُقْمَانُ لابْنِهِ وَهُوَ يَعِظُهُ يَا بُنَيَّ لا تُشْرِكْ بِاللَّهِ إِنَّ الشِّرْكَ لَظُلْمٌ عَظِيمٌ
“Dan (ingatlah) ketika Lukman berkata kepada anaknya, di waktu ia memberi pelajaran kepadanya, “Hai anakku, janganlah kamu mempersekutukan Allah (berbuat syirik) sesungguhnya syirik itu kezhaliman yang sangat besar.”
Hati-hati terhadap kesyirikan dalam beribadah kepada Allah Azza wajalla seperti berdoa kepada orang yang sudah mati atau makhluk yang ghaib. Sebagaimana telah dijelaskan oleh Rasulullah Shallallahu’alaihi wasallam dalam sabda beliau dari shahabat Abu Abdullah An-Nu’man bin Basyir radhiallahu ‘anhu:
الدُّعاَءُ هُوَ الْعِباَدَةُ
“Doa adalah ibadah.” (HR. Abu Dawud no. 1479 dan At-Tirmidzi no. 2973 dari An-Nu’man bin Basyir radhiallahu ‘anhu)
Tentang firman Allah Subhanahu wa Ta’ala:
الَّذِيْنَ آمَنُوا وَلَمْ يَلْبِسُوا إِيْمَانَهُمْ بِظُلْمٍ أُولَئِكَ لَهُمُ اْلأَمْنُ وَهُمْ مُهْتَدُوْنَ
“Orang-orang yang beriman dan tidak mencampuradukkan keimanan mereka dengan kezhaliman, mereka itulah orang-orang yang mendapatkan keamanan dan mereka itu adalah orang-orang yang mendapatkan petunjuk.” (Al-An’am: 82)
Yang dimaksud dengan kezhaliman di sini adalah syirik besar. Karena Ibnu Mas`ud radhiyallahu ‘anhu pernah berkata:
لَمَّا نَزَلَتْ هَذِهِ اْلآيَةُ، قَالُوا: فَأَيُّنَا لَمْ يَظْلِمْ نَفْسَهُ؟ فَقَالَ رَسُوْلُ اللهِ صَلِّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ: لَيْسَ بِذَلِكُمْ، أَلَمْ تَسْمَعُوا إِلَى قَوْلِ لُقْمَانَ: {إِنَّ الشِّرْكَ لَظُلْمٌ عَظِيْمٌ}
“Tatkala ayat ini turun, para shahabat bertanya: ‘Siapa di antara kami yang tidak menzhalimi dirinya?’ Maka Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam menjawab: ‘(Ayat ini) bukan seperti yang kalian pahami. Tidakkah kalian mendengar ucapan Luqman: ‘Sesungguhnya syirik adalah kezhaliman yang besar.’?” (HR. Al-Bukhari)
2. Berbakti kepada kedua orangtua (birrul walidain)
وَوَصَّيْنَا الإنْسَانَ بِوَالِدَيْهِ حَمَلَتْهُ أُمُّهُ وَهْنًا عَلَى وَهْنٍ وَفِصَالُهُ فِي عَامَيْنِ أَنِ اشْكُرْ لِي وَلِوَالِدَيْكَ إِلَيَّ الْمَصِيرُ
“Dan Kami perintahkan kepada manusia (berbuat baik) kepada dua orang ibu-bapaknya; ibunya telah mengandungnya dalam keadaan lemah yang bertambah-tambah, dan menyapihnya dalam dua tahun. Bersyukurlah kepada-Ku dan kepada dua orang ibu bapakmu, hanya kepada-Kulah kembalimu.”
Kemudian Luqman menggandengkan perintah untuk beribadah hanya kepada-Nya dengan berbuat baik kepada kedua orangtua karena besarnya hak keduanya. Seorang ibu mengandung anaknya dengan susah payah sedangkan seorang ayah menanggung nafkahnya, maka seharusnya seorang anak bersyukur kepada Allah Azza wajalla dan kepada kedua orangtuanya.
3. Berbuat baik kepada kedua orangtua
وَإِنْ جَاهَدَاكَ عَلى أَنْ تُشْرِكَ بِي مَا لَيْسَ لَكَ بِهِ عِلْمٌ فَلا تُطِعْهُمَا وَصَاحِبْهُمَا فِي الدُّنْيَا مَعْرُوفًا وَاتَّبِعْ سَبِيلَ مَنْ أَنَابَ إِلَيَّ ثُمَّ إِلَيَّ مَرْجِعُكُمْ فَأُنَبِّئُكُمْ بِمَا كُنْتُمْ تَعْمَلُونَ
“Dan jika keduanya memaksamu untuk mempersekutukan dengan Aku sesuatu yang tidak ada pengetahuanmu tentang itu, maka janganlah kamu mengikuti keduanya, dan pergaulilah keduanya di dunia dengan baik, dan ikutilah jalan orang yang kembali kepada-Ku, kemudian hanya kepada-Kulah kembalimu, maka Ku-beritakan kepadamu apa yang telah kamu kerjakan.”
Ibnu Katsir berkata, “Maksudnya jika keduanya memaksamu agar engkau mengikuti agama keduanya (selain Islam), maka janganlah engkau terima. Namun janganlah hal itu menghalangimu dari bergaul dan berbakti kepada keduanya di dunia dengan baik, dan ikutilah jalan orang-orang yang beriman.” (Tafsir Ibnu Katsir 3/446)
Hal ini dikuatkan dengan sabda nabi Shallallahu’alaihi wasallam,
لاَ طَاعَةَ لِمَخْلُوْقٍ فِيْ مَعْصِيَةِ الْخَالِقِ إِنَّمَا الطَّاعَةَ فِي الْمَعْرُوْفِ
“Tidak ada ketaatan kepada makhluk dalam bermaksiat kepada Allah, sesungguhnya ketaatan itu (hanya boleh) dalam hal kebaikan.” (HR. Al-Bukhari dan Muslim dari shahabat ‘Ali bin Abi Thalib radhiallahu ‘anhu)
4. Tidak ada yang tersembunyi dari Allah Subhanahu wata’ala
يَا بُنَيَّ إِنَّهَا إِنْ تَكُ مِثْقَالَ حَبَّةٍ مِنْ خَرْدَلٍ فَتَكُنْ فِي صَخْرَةٍ أَوْ فِي السَّمَاوَاتِ أَوْ فِي الأرْضِ يَأْتِ بِهَا اللَّهُ إِنَّ اللَّهَ لَطِيفٌ خَبِيرٌ
“(Lukman berkata): “Hai anakku, sesungguhnya jika ada (sesuatu perbuatan) seberat biji sawi, dan berada dalam batu atau di langit atau di dalam bumi, niscaya Allah akan mendatangkannya (membalasinya). Sesungguhnya Allah Maha Halus lagi Maha Mengetahui.”
Ibnu Katsir berkata, “Jika ada kezhaliman atau kesalahan sebesar biji sawi, niscaya Allah Azza wajalla akan mendatangkannya pada hari kiamat ketika diletakkan timbangan keadilan. Allah Ta’ala akan membalasnya. Jika amalannya baik maka baiklah ganjarannya, dan jika jelek maka jeleklah pula balasannya.” (Tafsir Ibnu Katsir 3/446)
5. Tegakkan shalat
يَا بُنَيَّ أَقِمِ الصَّلاةَ
“Hai anakku, dirikanlah shalat.”
Kerjakanlah secara khusyu’ dengan rukun-runkunnya dan kewajiban-kewajibannya.
6. Amar ma’ruf nahi munkar
وَأْمُرْ بِالْمَعْرُوفِ وَانْهَ عَنِ الْمُنْكَر
“Dan suruhlah (manusia) mengerjakan yang baik dan cegahlah (mereka) dari perbuatan yang mungkar.”
Dengan kelembutan dan ramah tanpa kekerasan.
7. Sabar atas musibah yang menimpa
وَاصْبِرْ عَلَى مَا أَصَابَكَ
“Dan bersabarlah terhadap apa yang menimpa kamu.”
Telah diketahui bahwa orang-orang yang beramar ma’ruf nahi munkar maka dia akan mendapatkan gangguan. Oleh karena itu, Luqman memerintahkan putranya untuk bersabar. Ini pula pengajaran Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam yang disampaikan oleh Abdullah bin ‘Umar radhiallahu ‘anhuma:
الْمُؤْمِنُ الَّذِي يُخاَلِطُ النَّاسَ وَيَصْبِرُ عَلَى أَذَاهُمْ خَيْرٌ مِنَ الَّذِي لاَ يُخاَلِطُ النَّاسَ وَلاَ يَصْبِرُ عَلَى أَذَاهُمْ
“Seorang mukmin yang bergaul dengan manusia dan bersabar atas gangguan mereka lebih baik daripada orang yang tidak mau bergaul dengan manusia dan tidak bersabar atas gangguan mereka.” (Dikatakan oleh Asy-Syaikh Al-Albani rahimahullah dalam Shahih Al-Adabul Mufrad no. 300: Shahih)
إِنَّ ذَلِكَ مِنْ عَزْمِ الأمُورِ
“Sesungguhnya yang demikian itu termasuk hal-hal yang diwajibkan (oleh Allah).”
Maksudnya, bersabar terhadap gangguan manusia benar-benar merupakan perkara yang diwajibkan.
8. Jangan kau palingkan mukamu dari manusia
وَلا تُصَعِّرْ خَدَّكَ لِلنَّاسِ
“Dan janganlah kamu memalingkan mukamu dari manusia (karena sombong).”
Ibnu Katsir mengatakan, “Jangan engkau memalingkan wajahmu dari manusia apabila engkau berbicara dengan mereka, atau (ketika) mereka mengajak bicara denganmu, karena meremehkan dan sombong terhadap mereka. Akan tetapi ramahlah terhadap mereka yakni dengan wajah ceria.” (Tafsir Ibnu Katsir 3/446)
Nabi Shallallahu’alaihi wasalam bersabda,
تَبَسَّمُكَ فِي وَجْهِ أَخِيكَ لَكَ صَدَقَةٌ
“Senyummu di hadapan saudaramu adalah shadaqah.” (Shahih, diriwayatkan oleh at-Tirmidzi dan selainnya)
9. Jangan angkuh lagi sombong
وَلا تَمْشِ فِي الأرْضِ مَرَحًا
“Dan janganlah kamu berjalan di muka bumi dengan angkuh.”
Yakni angkuh, sombong, sewenang-wenang, dan menentang. Jangan engkau berbuat demikian, karena Allah Azza wajalla akan murka kepadamu. Oleh karena itu Allah Azza wajalla berfirman,
إِنَّ اللَّهَ لا يُحِبُّ كُلَّ مُخْتَالٍ فَخُورٍ
“Sesungguhnya Allah tidak menyukai orang-orang yang sombong lagi membanggakan diri.”
10. Berlakulah sederhana
وَاقْصِدْ فِي مَشْيِكَ
“Dan sederhanalah kamu dalam berjalan.”
Yakni sedang, tidak terlampau cepat tidak pula terlalu lambat.
11. lunakkan suaramu
وَاغْضُضْ مِنْ صَوْتِكَ
“Dan lunakkanlah suaramu.”
Yakni janganlah berlebihan dalam berbicara, jangan mengeraskan suara kalau tidak ada faidahnya. Oleh karena itu Allah Subhanahu wata’ala berfirman,
إِنَّ أَنْكَرَ الأصْوَاتِ لَصَوْتُ الْحَمِيرِ
“Sesungguhnya seburuk-buruk suara ialah suara keledai.”
Mujahid berkata, “Sesungguhnya seburuk-buruk suara ialah suara keledai.”
Yakni sangat keras suaranya. Ia diserupakan dengan keledai dalam tinggi dan kerasnya. Inilah yang dibenci Allah Azza wajalla. Disamakannya dengan keledai menunjukkan haram dan tercelanya perbuatan itu, karena Nabi Shallallahu’alaihi wasallam bersabda,
لَيْسَ لَنَا مَثَلُ السُّوءِ، الْعَاىِٔدُ فِي هِبَتِهِ كَالْكَلْبِ يَعُودُ فِي قَيىِٔهِ
“Bukan termasuk kami permisalan yang jelek, seorang yang mengambil kembali pemberiannya seperti anjing yang menjilat muntahannya.” (Riwayat Bukhari)
Dan Nabi Shallallahu’alaihi wasallam bersabda,
ذَا سَمِعْتُمْ صِيَاحَ الدِّيْكَةِ فَاسْأَلُوا اللهَ مِنْ فَضْلِهِ، فَإِنَّهَا رَأَتْ مَلَكًا، وَإِذَا سَمِعْتُمْ نَهِيْقَ الْحِمَارِ فَتَعَوَّذُوْا بِاللهِ مِنَ الشَّيْطَانِ، فَإِنَّهُ رَأَى شَيْطَانًا
“Apabila kamu sekalian mendengar ayam jantan berkokok, mohonlah rahmat Allah Ta’ala karena ia sedang melihat Malaikat. Dan apabila engkau mendengar keledai meringkik, mintalah perlindungan kepada Allah Ta’ala dari gangguan syaitan karena sesungguhnya ia melihat syaitan.” (Riwayat al-Bukhari dan Muslim)
PELAJARAN YANG BISA DIAMBIL DARI AYAT-AYAT DI ATAS
1. Disyariatkan bagi orangtua untuk memberikan wasiat kepada anak-anaknya dengan apa-apa yang bermanfaat baginya di dunia dan di akhirat.
2. Dalam memberikan pelajaran dituntunkan mendahulukan perkara tauhid dan memperingatkan dari bahaya syirik, karena syirik merupakan kezhaliman yang akan menghapuskan amalan.
3. Wajibnya bersyukur kepada Allah Subhanahu wata’ala kemudian kepada kedua orangtua. Juga wajibnya berbakti serta menyambung silaturahim dengan keduanya.
4. Wajibnya taat kepada orangtua dalam hal yang baik, bukan maksiat kepada Allah Azza wajalla, karena Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda:
لاَ طَاعَةَ لِمَخْلُوْقٍ فِيْ مَعْصِيَةِ الْخَالِقِ إِنَّمَا الطَّاعَةَ فِي الْمَعْرُوْفِ
“Tidak ada ketaatan kepada makhluk dalam bermaksiat kepada Allah, sesungguhnya ketaatan itu (hanya boleh) dalam hal kebaikan.” (HR. Al-Bukhari dan Muslim dari shahabat ‘Ali bin Abi Thalib radhiallahu ‘anhu)
5. Wajibnya mengikuti jalan orang-orang yang beriman dan bertauhid serta haramnya mengikuti ahlul bid’ah yang merekayasa syariat baru dalam agama.
6. Merasa diawasi oleh Allah Ta’ala dalam keadaan sendiri ataupun di tengah orang banyak, dan tidak boleh menganggap remeh kebaikan dan kejelekan meskipun sedikit atau kecil.
7. Wajibnya mendirikan shalat dengan rukun-rukunnya dan kewajiban-kewajibannya serta tuma’ninah padanya.
8. Wajibnya amar makruf nahi munkar yang bersumber ilmu disertai kelembutan sesuai dengan kemampuannya. Rasulullah Shallallahu’alaihi wasallam bersabda,
مَنْ رَأَى مِنْكُمْ مُنْكَرًا فَلْيُغَيِّرْهُ بِيَدِهِ، فَإِنْ لَمْ يَسْتَطِعْ فَبِلِسَانِهِ، فَإِنْ لَمْ يَسْتَطِعْ فَبِقَلْبِهِ، وَذَلِكَ أَضْعَفُ اْلإِيْمَانِ
“Siapa saja di antara kalian yang melihat kemungkaran, hendaknya mengubahnya dengan tangannya. Jika tidak mampu dengan tangannya maka dengan lisannya. Dan jika tidak mampu dengan lisannya maka dengan hatinya, itulah selemah-lemah iman.” (HR. Muslim, no. 78, dari shahabat Abu Sa’id Al-Khudri radhiyallahu ‘anhu)
9. Orang yang beramar makruf nahi munkar hendaknya bersabar tatkala ada gangguan yang ia dapatkan, karena hal itu merupakan sesuatu yang diwajibkan.
10. Haramnya takabur dan angkuh dalam berjalan.
11. Dituntunkan pertengahan dalam berjalan, tidak terlalu cepat dan tidak terlampau lambat.
12. Tidak boleh mengeraskan suara melebihi kebutuhan, karena hal itu termasuk kebiasaan keledai.
13. Bersikap pertangahan pada setiap perkara.
(Dinukil dari Kitab Kaifa Nurabbi Auladana, Edisi Indonesia Mencetak Anak Shalih, Penulis Asy-Syaikh Muhammad bin Jamil Zainu, Penerjemah Zuhair Syarif, Penerbit Pustaka Al Haura’, Hal. 18-27)

baca artikel lainnya :
https://bintusuratman.blogspot.co.id/2016/10/biografi-syekh-habib-saggaf-bin-mahdi.html

referensi :
https://sunniy.wordpress.com/2013/05/27/wasiat-luqman-al-hakim-kepada-anaknya-yang-diabadikan-dalam-al-quran/

Nasihat Imam Syafi'i Bagi Para Pencari Ilmu


Dalam mencari ilmu tentu ada tata cara atau adab yang harus pencari ilmu itu ketahui agar apa yang menjadi niat dari pencari ilmu berhasil. Sebagaimana artikel yang akan disampaikan melalui tulisan yang mudah-mudahan bermanfaat.

Wahai saudaraku engkau tidak akan mendapatkan ilmu kecuali dengan 6 perkara:

1. Kecerdasan
Kecerdasan ialah istilah umum yang digunakan untuk menjelaskan sifat pikiran yang mencakup sejumlah kemampuan, seperti kemampuan menalar, merencanakan, memecahkan masalah, berpikir abstrak, memahami gagasan, menggunakan bahasa, dan belajar.  Kecerdasan bisa termasuk kreativitas, kepribadian, watak, pengetahuan, atau kebijaksanaan. Pembagian spesifikasi kecerdasan menurut L.L. Thurstone:
  1. Pemahaman dan kemampuan verbal
  2. Angka dan hitungan
  3. Kemampuan visual
  4. Daya ingat
  5. Penalaran
  6. Kecepatan perseptual
  7. Terdapat beberapa faktor yang memengaruhi kecerdasan, yaitu:
  8. Faktor Bawaan atau Biologis
  9. Faktor Minat dan Pembawaan yang Khas
  10. Faktor Pembentukan atau Lingkungan
  11. Faktor Kematangan
  12. Faktor Kebebasan

2. Kemauan yang Keras
Rasulullah bersabda, “Berkemauan keraslah kamu kepada apa-apa yang bermanfaat untukmu dan jangan bersikap lemah” HR. Muslim. Dalam bahasa arab kata berkemauan keras yakni “Hirsh” akan coba kita dekati dengan kata “Antusias”.

“Success is going from failure to failure without loss of enthusiasm.”(Keberhasilan berjalan dari kegagalan ke kegagalan tanpa kehilangan antusiasme)– Winston Churchill –

Kata antusias (enthusiast) atau antusiasme (enthusiasm) berasal dari bahasa Yunani kuno “entheos” yang berarti “Tuhan di dalam” dan antusias berarti “diilhami dari Tuhan”. Sedangkan menurut kamus Webster, antusiasme berarti “kegairahan yang kuat terhadap salah satu sebab atau subyek; semangat atau minat yang berapi-api; kegairahan.”

Sikap antusias akan membawa kita pada pikiran, perasaan dan tindakan yang positif. Dale Carnegie telah membuktikan keampuhan antusiasme bagi kesuksesan dirinya, sebagaimana telah ditulis dalam bukunya yang berjudul “Rahasia Keberhasilan yang Jarang Dikenal.” Ia pernah mengatakan bahwa “antusiasme yang murni dan sepenuh hati adalah satu dari faktor-faktor kesuksesan dalam hampir segala usaha.” Albert Carr, dalam bukunya How to Attract Good Luck tidak menyebut kata antusiasme, tetapi sebagai gantinya ia menyebut kata “semangat” (”zest”) – yang kurang lebih sama artinya dengan antusias -sebagai jalan pintas menuju keberuntungan (the shortcut to luck). Itulah kekuatan dari antusiasme atau semangat. Jadi tidak salah apabila Bertrand Russell menyebut semangat sebagai “tanda paling khusus dan universal dari orang-orang bahagia.”

3. Sungguh-sungguh
Man Jadda Wajada = Siapa yang bersungguh-sungguh pasti akan berhasil. Begitulah bunyi peribahasa arab yang populer. Kesungguhan memang merupakan satu hal yang wajib kita miliki jika ingin berhasil mencapai sesuatu. Dalam kesungguhan itu terkandung mental baja dan sikap pantang menyerah. Ketika bersungguh-sungguh, kita memberikan seluruh energi, hati, dan pikiran kita pada apa yang kita kerjakan. Kita berfokus pada keinginan kita untuk mencapai apa yang kita inginkan. Bukan kesulitan yang mungkin dihadapi untuk mencapainya.

Rasulullah saw. bersabda:
“Allah  mencela sikap lemah dan tidak bersungguh-sungguh. Kamu harus memiliki sikap cerdas dan cekatan, namun jika kamu tetap terkalahkan oleh suatu perkara, maka kamu berucap ‘cukuplah Allah menjadi penolongku, dan Allah sebaik-baik pelindung.’” (HR. Abu Dawud).

Kesungguhan adalah salah satu wujud keyakinan kita pada Allah. Bahwa Dia bisa mewujudkan apa saja dan kesungguhan kita merupakan salah satu pembuka jalannya. Kesungguhan membuat kita maksimal dalam melakukan setiap hal. Tidak mudah menyerah sebelum mencapai tujuan, meresapi proses perjuangannya dan menikmati buah manis keberhasilan pada akhirnya.

Dan bahwasanya seorang manusia tiada memperoleh selain apa yang telah diusahakannya. Dan bahwasanya usaha itu kelak akan diperlihatkan (kepadanya). Kemudian akan diberi balasan kepadanya dengan balasan yang paling sempurna. Dan kepada Tuhanmulah kesudahan (segala sesuatu). (QS. An-Najm: 39-42)

4. Memiliki Bekal/Biaya
Para ulama jaman dahulu rela mengorbankan harta bendanya untuk melakukan perjalanan dalam menuntut ilmu. Abu Hatim yang menjual bajunya untuk dapat menuntut Ilmu, Imam Malik bin Anas menjual kayu atap rumahnya untuk bisa menuntut ilmu, bahkan Al Hamadzan Al Atthar, seorang syaikh dari Hamadzan menjual seluruh warisannya untuk biaya menuntut ilmu. Penunutut ilmu mencurahkan segala kemampuan baik materi atau apapun yang ia miliki hingga ia menggapai cita-citanya hingga ia mumpuni dalam bidang keilmuan dan kekuatannya: baik hafalan, pemahaman maupun kaidah dasarnya.

Wajib bagi penuntut ilmu memiliki bekal paling minimal yakni dia bisa mengisi perutnya untuk sehari-harinya. Jangan sampai dia menjadi seorang yang kelaparan. Orang yang kelaparan terus menerus maka otaknya akan sangat kekurangan nutrisi dan sulit untuk berpikir disamping itu juga tubuhnya menjadi lemah bahkan sakit-sakitan.

5. Berteman dengan Ustadz (Guru)/Tutor
Tidak ada Guru menyebabkan tidak ada yang menegur, membimbing dan mengarahkan agar kita agar tetap berada di jalan yang benar. Guru adalah sumber ilmu, sesudah buku. Pepatah tersebut mungkin sudah tidak asing lagi di telinga kita. Semenjak kita kecil hingga besar perjalan hidup kita ini harus lah selalu atas peranan guru dan juga bimbingan guru. Tidaklah seorang anak manusia di Dunia ini yang bisa pintar tanpa adanya peranan seorang guru. Guru merupakan faktor kesuksesan dan keberhasilan dalam mencari ilmu.

6. Membutuhkan waktu yang lama
Dikatakan kepada Imam Ahmad, “Seorang menuntut ilmu pada guru saja yang memiliki ilmu yang banyak atau dia pergi bertualang menuntut ilmu?”. Ahmad menjawab, “dia bertualang dan menulis dan mendengar dari para ulama di setiap kota”. Bahkan Musa  sendiri yang sudah jadi Nabi berjalan jauh untuk menuntut ilmu.( Fathul Bari)

Imam Bukhari membuat bab khusus tentang keluar menuntut ilmu . lalu beliau mencontohkan sahabat Jabir bin Abdullah. Sahabat dari kalangan Anshar ini pernah melakukan perjalanan selama satu bulan untuk mengambil satu Hadits dari Abdullah bin Unais. (Shohih Bukhari)

Muhammad bin Syihab Az Zuhri berkata, “Yang namanya ilmu, jika engkau memberikan usahamu seluruhnya, ia akan memberikan padamu sebagian.”

Dalam hadits riwayat Muslim, Abu Katsir berkata, “Ilmu tidak diperoleh dengan badan yang bersantai-santai.” (HR. Muslim no. 612).

Memang membutuhkan waktu yang lama bahkan tidak ada batas dalam mencari ilmu. Bahkan sering kita dengar kata-kata mutiara uthlubu ‘ilma minal mahdi ilal lahdi ( tuntutlah ilmu sejak dini hingga mati)

Source: Anggara Adhari

baca juga artikel lainnya :

referensi :
https://generasisalaf.wordpress.com/2012/12/13/enam-resep-imam-syafii-dalam-meraih-ilmu/

Tuesday, February 28, 2017

Ahlak Guru Terhadap murid dan Murid Terhadap Guru


BAB I
PENDAHULUAN
A.Latar Belakang
Kedudukan akhlak dalam kehidupan manusia menempati tempat yang paling penting. jatuh bangunnya suatu masyarakat dan bangsa tergantung pada bagaimana ahlaknya. Jika akhlak masyarakat tersebut baik, maka baik pula lahir dan batinnya. Sebaliknya, apabila ahlaknya rusak, maka rusak pula lahir dan batinnya. Keberhasilan seseorang, masyarakat, dan bangsa disebabkan karena ahlaknya buruk.
Seorang muslim yang berahlak baik senantiasa mau bersikap adil. Yang dimaksud adil disini adalah memberikan setiap orang yang mempunyai hak akan haknya. Pengertian adil seperti itu tidak akan terwujud seperti yang diharapkan, jika tidak mengetahui hak dan kewajiban, hak dan kewajiban itu diberikan kepada orang yang memilikinya. Sebaliknya jika seorang yang berahlak buruk akan merampas hak orang lain dan tidak melaksanakan kewajiban-kewajibannya.
Yang namanya akhlak itu terbagi kepada berbagai macam, akhlak terhadap diri sendiri, orang lain dan lain-lain. Termasuk di dalamnya akhlak terhadap guru kita yang mengajari kita ada beberapa aturan yang mesti dilakukan agar kita mendapat ilmu yang manfaat.
BAB II
PEMBAHASAN
A.Pengertian Akhlak Atau Perilaku
Perilaku atau Akhlak merupakan tingkah laku atau tanggapan seorang terhadap lingkungan, sifat-sifaat kejiawaan,akhlak atau budi pekerti yang menjadi ciri khas seorang. secara etimologi akhlak berasal dari kata khalaqa yang berarti mencipta, membuat, atau menjadikan. Akhlak adalah kata yang berbentuk mufrad, jamaknya adalah khuluqun, yang berarti perangkai, tabiat, adat atau khalakun yang berarti kejadian, buatan, ciptaan. Jadi akhlak (perilaku) adalah perangkai tabiat atau sistim perilaku yang dibuat manusia, bisa baik atau buruk tergantung kepada tata nilai yang dipakai sebgai landasan, meskipun secara sosiologis di Indonesia kata akahlak sudah menjadi konotasi baik sehingga orang berakhlak berarti orang yang berperilaku baik. Jadi, Akhlak atau perilaku adalah hal ikhwal yang melekat jiwa, dari pada timbul perbuatan-perbuatan yang mudah tanpa dipikirkan dan diteliti manusia. Baik kataakhlak atau khuluk kedua-duanya dapat dijumpai dalam Al-Qur’an sebagagai berikut :
Artinya : “Dan sesungguhnya engkau (Muhammad) benar-benar Berbudi pekerti yang agung (Q.S Al-Qalam, 68 : 4)”
Sedangkan menurut pendekatan terminalogi, berikut ini beberapa pakar yang mengemukakan pengetian Akhlak atau perilaku sebagai berikut :
1.Ibnu Miskawih
Bahwa akhlak atau perilaku adalah keadaan jiwa seorang yang mendorongnya untuk melakukan perbuatan-perbuatan tanpa melalui pertimbangan pikiran terlebih dahulu.
2.Imam Al-Ghazali
Bahwa akhlak atau perilaku adalah suatu sikap yang mengakar yang darinya lahir sebagai perbuatan yang mudah dan gampang, tanpa perlu kepada pikiran dan pertimbangan. Jika sikap itu yang darinya lahir perbuatan yang baik atau terpuji, baik dari segi akal syara, maka ia disebut akhlak yang baik. Dan jika dia lahir darinya perbuatan tercel, maka sikap tersebut disebut akhlak buruk.
3.Ahmad Amin
Sementara orang mengetahui bahwa yang disebut akhlak atau perilaku yaitu kehendak yang dibiasakan. Artinya, kehendak itu bisa membiasakan sesuatu, kebiasaan itu dinamakn akahlak atau perilaku. Menurut kehendak ialah ketentuan dari beberapa keinginan manusia setelah imbang, sedang kebiasaan merupaka perbuatan yang diulang-ulang sehingga mudah melakukannya, masing-masing dari kehendak dan kebiasaan ini mempunyai kekuatan lebih besar, kekuatan inilah yang bernama akhlak.
Jika diperhatikan dengan seksama, tampak bahwa sleuruh defenisi aklak sebagai mana tersebut di atas tidak ada yang saling bertentangan, melainkan saling melengkapi, yaitu sifat yang tertanam kuat dalam jiwa yang Nampak dalam perbuatan lahiriah yang dilakukan dengan mudah, tanpa memerlukan pemikiran lagi yang tertanam sudah menjadi kebiasaan.
Jika dikaitkan dengan kata islami, maka akan berbentuk akhlak islami, secara sederhana akhlak islam diartikan sebagai akhlak yang berdasarkan ajaran islam atau akhlak yang bersifat islami. Dengan demikian akhlak islami adalah perbuatan yang dilakukan dengan mudah, disengaja, mendarah daging dan sebenarnya berdasarkan pada ajaran islam. Dilihat dari segi sifatnya yang unifersal, maka akhlak islami juga bersifat unifersal.
Dari defenisi di atas dapat ditarik kesumpulan bahwa dalam menjabarkan akhlak atau perilaku unifersal de perlukan bantuan pikiran akal manusia dan kesempatan social, yang terkandung dalam ajaran etika dan moral. Menghormati kedua orang tua misalnya, dalah akhlak yang bersifat mutlak dan universal di kalangan pelajar sebagai seorang yang terpelajar. Sedangkan bagaimana bentuk dan cara menghormati orang tua itu dapat dimanifestasikan oleh hasil pemikiran manusia.
Jadi, akhlak islam bersifat mengarahkan, membimbing, mendorong, membangun peradaban manusia dan mengobati penyakit social pada zaman era globalisasi seperti ini. Serta tujuan berakhlak yang baik untuk mendapatkan kebaikan. Dengan demikian akhlak islami lebih baik dari akhlak lainnya.
B.Akhlak Siswa Terhadap Guru
Siswa adalah orang yang belajar kepada guru, siswa pula yang menentukan kualitas ajar seorang guru. Jika siswanya kurang pintar setelah mendapat pendidikan, maka ada dua kemungkinan, yakni: siswanya kurang mencerna pelajaran yang ditransfer guru (atau sang guru tidak dapat memberikan metode terbaik pada saat pelajaran diberikan), atau sang siswa tidak mampu mengikuti pelajaran yang diberikan guru.
Dua kemungkinan di atas, sangatlah lumrah. Yang pasti sang guru tidak mau disalahkan alias guru beralasan bahwa siswa tersebut memang tidak mampu mengikuti pelajaran (siswanya ber-IQ rendah). Kalau mau jujur, guru pun harus dapat mengevaluasi metode yang digunakan dalam pendidikan, apakah sesuai dengan tingkat kecerdasan, tingkat usia, tingkat emosi dan sebagainya. Hal ini perlu dilakukan oleh seorang guru, agar ilmu yang ditransfer dapat diterima dengan baik. Selain itu seorang siswa pun harus mengakomodir segala yang diberitakan oleh guru dalam segala hal yang berhubungan dengan pendidikan, dengan tujuan agar siswanya itu menjadi orang yang berguna.
Seorang siswa wajib berbuat baik kepada guru dalam arti menghormati, memuliakan dengan ucapan dan perbuatan, sebagai balas jasa atas kebaikan yang diberikannya. Siswa berbuat baik dan berakhlak mulia atau bertingkah laku kepada guru dengan dasar pemikiran sebagai berikut:
1.Memuliakan dan menghormati guru termasuk satu perintah agama
Sabda Rasulullah SAW yang artinya: “Muliakanlah orang yang kamu belajar darinya”. (HR. Abul Hasan Al-Mawardi), “Muliakanlah guru-guru Al-Qur’an (agama), karena barang siapa yang memuliakan mereka berarti ia memuliakan aku”. (HR. Abul Hasan Al-Mawardi)
Penyair Mesir Ahmad Syauki Bey mengatakan :
“Berdiri dan hormatilah guru, dan berilah ia penghargaan, (karena) seorang guru itu hampir saja merupakan Tuhan”. (HR. Abul Hasan Al-Mawardi)
2.Guru adalah orang yang sangat mulia
Dalam sejarah nabi disebutkan, bahwa pada suatu hari Nabi Muhammad SAW keluar rumah. Tiba-tiba beliau melihat ada dua majlis yang berbeda. Majlis yang pertama adalah orang-orang yang beribadah yang sedang berdoa kepada Allah dengan segala kecintaan kepadaNya, sedang majlis yang kedua ialah majlis pendidikan dan pengajaran yang terdiri dari guru dan sejumlah murid-muridnya. Melihat dua macam majlis yang berbeda Nabi bersabda: “Adapun mereka dari majlis ibadah mereka sedang berdoa kepada Allah. Jika Allah mau, Allah menerima doa mereka, dan jika Allah mau, Allah menolak doa mereka. Tetapi mereka yang termasuk dalam majlis pengajaran manusia. Sesungguhnya aku diutus Tuhan adalah untuk menjadi guru. (HR. Ahmad)
3.Guru adalah orang yang sangat besar jasanya dalam memberikan ilmu pengetahuan, keterampilan, pengalaman, dan mental kepada siswa
Bekal ini jika diamalkan jauh lebih berharga dari pada harta benda. Orang yang ingin sukses di dunia dan akhirat harus dengan ilmu. Sabda Rasulullah SAW: “Barang siapa yang menghendaki dunia, wajib ia mempunyai ilmu. Barang siapa yang menghendaki akhirat, wajib mempunyai ilmu. Dan barang siapa yang menghendaki dunia dan akhirat kedua-duanya, wajib juga mempunyai ilmu. (HR. Ahmad)
4.Dilihat dari segi usia, maka pada umumnya guru lebih tua dari pada muridnya, sedangkan orang muda wajib menghormati orang yang lebih tua
Sabda Rasulullah SAW: “Bukan dari umatku, orang yang tidak sayang kepada yang lebih muda dan tidak menghargai kehormatan yang lebih tua.” (HR. Abu Daud dan Turmudzi)
5.Cara Berakhlak Terhadap Guru
Banyak cara yang dapat dilakukan seorang siswa dalam rangka berakhlak terhadap seorang guru, di antaranya adalah sebagai berikut:
6.Menghormati dan memuliakannya serta mengagungkannya menurut cara yang wajar dan dilakukan karana Allah.
7.Berupaya menyenangkan hatinya dengan cara yang baik.
8.Tidak merepotkan guru dengan banyak pertanyaan.
9.Dengan meletihkan guru dengan berbagai pertanyaan dan beban lainnya.
10.Jangan berjalan dihadapannya.
11.Jangan duduk ditempat duduknya.
12.Jangan mulai berbicara kecuali setelah mendapat izin darinya.
13.Jangan membukakan rahasia guru.
14.Jangan melawan dan menipu guru.
15.Meminta ma’af jika berkata keliru dihadapan guru.
16.Memuliakan keluarganya.
17.Memuliakan sahabat karib guru.
Adapun kode etik terhadap guru meliputi :
Ibn jama’ah menyusun kode etik yaitu:
•Murid harus mengikuti guru yang dikenal baik akhlak, tinggi ilmu dan keahlian, berwibawa, santun dan penyayang. Ia tidak mengikuti guru yang tinggi ilmunya tetapi tidak saleh, tidak waras, atau tercela akhlaknya.
•Murid harus mengikuti dan mematuhi guru. Menurut ibn jama’ah rasa hina dan kecil di depan guru merupakan pangkal keberhasilan dan kemuliaan. Ia memberikan umpama lain, yaitu penuntut ilmu ibarat orang lari dari kebodohan seperti lari dari singa ganas. Ia percaya kepada orang penunjuk jalan lari.
•Murid harus mengagungkan guru dan meyakini kesempurnaan ilmunya. Orang yang berhasil hingga menjadi ilmuwan besar, sama sekali tidak boleh berhenti menghormati guru.
•Murid harus mengingat hak guru atas dirinya sepanjang hayat dan setelah wafa. Ia menghormati sepanjang hidup guru, meski wafat. Murid tetap mengamalkan dan mengembangkan ajaran guru.
•Murid bersikap sabar terhadap perlakuan kasar atau akhlak buruk guru. Hendaknya berusaha untuk memaafkan perlakuan kasar, turut memohon ampun dan bertaubat untuk guru.
•Murid harus menunjukkan rasa berterima kasih terhadap ajaran guru. Melalui itulah ia mengetahui apa yang harus dilakukan dan dihindari. Ia memperoleh keselamatan dunia dan akhirat. Meskipun guru menyampaikan informasi yang sudah di ketahui murid, ia harus menunjukan rasa ingin tahu tinggi terhadap informasi.
•Murid tidak mendatangi guru tanpa izin lebih dahulu, baik guru sedang sendiri maupun bersama orang lain. Jika telah meminta izin dan tidak memperoleh. Ia tidak boleh mengulangi minta izin. Jika ragu apakah guru mendengar suaranya, ia bisa mengulanginya paling banyak tiga kali.
•Harus duduk sopan didepan guru. Missalnya, duduk bersila dengan tawadu’, tenang, diam, posisi duduk sedapat mungkin berhadapan dengan guru, atentif terhadap perkataan guru sehingga tidak membuat guru mengulangi perkataan. Tidak di benarkan berpaling atau menoleh tanpa keperluan jelas, terutama saat guru berbicara kepadanya.
•Bekomunikasi dengan guru secara santun dan lemah- lembut. Ketika guru keliru baik khilaf atau karena tidak tahu, sementara murid mengetahui, ia harus menjaga perasaan agar tidak terlihat perubahan wajahnya. Hendaknya menunggu sampai guru menyadari kekeliruan. Bila setelah menunggu tidak ada indikasi guru menyadari kekeliruan, murid mengingatkan secara halus.
•Jika guru mengungkapkan satu soal, atau kisah atau sepenggal sair yang sudah dihafal murid, ia harus tetap mendengarkan dengan antusias, seolah-olah belum pernah mendengar.
•Murid tidak boleh menjawab pertanyaan guru meskipun mengetahui, kecuali guru memberi isyaratia memberi jawaban.
•Murid harus mengamalkan tayamun (mengutamakan yang kanan). Ketika memberi sesuatu kepada guru. Harus menjaga sikap wajar, tidak terlalu dekat hingga jaraknya terkesan mengganggu guru. Tidak pula terlalu jauh hingga harus merentangkan tangan secara berlebihan yang mengesankan kurang serius.
C.Akhlak Guru terhadap murid
Dalam paradigma Jawa, pendidik diidentikkan dengan guru, yang mempunyai makna “Digugu dan ditiru” artinya mereka yang selalu dicontoh dan dipanuti.
Sedangkan dalam kamus besar bahasa Indonesia adalah seorang yang pekerjaannya (mata pencahariannya, profesinya) mengajar. Dalam bahasa Arab disebut mu’allim dan dalam bahasa Inggris disebut Teacher. Itu semua memiliki arti yang sederhana yakni “A Person Occupation is Teaching Other” artinya guru ialah seorang yang pekerjaannya mengajar orang lain.•
Menurut Ngalim Purwanto bahwa guru ialah orang yang pernah memberikan suatu ilmu atau kepandaian kepada seseorang atau sekelompok orang.•
Ahmad Tafsir mengemukakan pendapat bahwa guru ialah orang-orang yang bertanggung jawab terhadap perkembangan anak didik dengan mengupayakan perkembangan seluruh potensi anak didik, baik potensi afektif, kognitif maupun psikomotorik.•
Sedangkan menurut Hadari Nawawi bahwa pengertian guru dapat dilihat dari dua sisal. Pertama secara sempit, guru adalah ia yang berkewajiban mewujudkan program kelas, yakni orang yang kerjanya mengajar dan memberikan pelajaran di kelas. Sedangkan secara luas diartikan guru adalah orang yang bekerja dalam bidang pendidikan dan pengajaran yang ikut bertanggung jawab dalam membantu anak-anak dalam mencapai kedewasaan masing-masing.•
Pengertian-pengertian diatas menurut Muhibbin Syah masih bersifat umum, dan oleh karenanya dapat mengundang bermacam-macam interpretasi dan bahkan juga konotasi (arti lain). Pertama adalah kata “seorang (A Person) bisa mengacu pada siapa saja asal pekerjaan sehari-harinya (profesinya) mengajar. Dalam hal ini berarti bukan hanya dia yang sehari-harinya mengajar disekolah yang dapat disebut guru, melainkan juga dia-dia yang lainnya yang berprofesi (berposisi) sebsagai Kyai di pesantren, pendeta di gereja, instruktur di balai pendidikan dan pelatihan, kedua adalah kata “mengajar” dapat pula ditafsirkan bermacam-macam misalnya:
•Menularkan (menyampaikan) pengetahuan dan kebudayaan kepada orang lain (bersifat kognitif)
•Melaih keterampilan jasmani kepada orang lain (psikomotorik)
•Menanamkan nilai dan keyakinan kepada orang lain (afektif)
Dari beberapa pengertian diatas dapat diambil sebuah konklusi bahwa yang dimaksud guru adalah seorang atau mereka yang pekerjaannya khusus menyampaikan (mengajarkan) materi pelajaran kepada siswa disekolah.
Guru harus menunjukkan karateristik utamanya, yaitu Mampu melaksanakan suatu pekerjaan secara rasional dan memiliki visi dan misi yang jelas.Menguasai perangkat pengetahuan (teori, konsep, data, informasi, prinsip.dan sebagainya ) .
Menguasai perangkat keterampilan (strategi, taktik, metode, teknik, prosedur, sarana, dan sebagainya) tentang cara bagaimana dan dengan apa harus melakukan tugas kewajiban pekerjaan sesuai profesinya.Memahami persyaratan ambang (basic standard) tentang kelayakan normatif minimal, kondisi proses yang dapat diterima dari apa yang dilakukannya. Bagi semua guru/pendidik mari kita tingkatkan profesionalisme kita, karena kita adalah ujung tombak sekaligus bertanggung jawab untuk mencerdaskan anak bangsa dan menghasilkan anak didik yang berakhlak mulia, berprestasi, dan mempunyai kepercayaan yang sangat tinggi terhadap guru/pendidiknya.
Guru yang baik memiliki tanggungjawab untuk selalu menjunjung tinggi profesinya. Guru dituntut untuk meningkatkan pengetahuan dan kemampuannya serta harus peka terhadap perubanan-pe-rubahan yang terjadi. Dunia ilmu pengetahuan selalu memunculkan hal-hal baru. Guru sebagai pendidik seyogianya lebih dulu mengetahui semua informasi atau bahan ajar dibandingan dengan siswa/anak didik maupun masyarakat.
BAB III
PENUTUP
A.Kesimpulan
Akhlak adalah budi pekerti yang menjadikan seseorang mempunyai jati diri, akhlak itu terbagi kepada 2 bagian : pertama, akhlak yang mulia dan kedua, akhlak yang tercela.
Akhlak yang tercela akan menyebabkan jati diri seseorang menjadi jahat di mata orang lain, apalagi terhadap guru yang member ilmu untuk kita. Selanjutnya, akhlak yang mulia itu akan memberikan suatu gambaran seseorang akan menjadi baik di kala masa tuanya nanti, sebab dengan akhlak yang mulia akan menjadikan seseorang dihormati dan disegani oleh orang banyak.
Apalagi akhlak mulia terhadap guru, dimana posisi guru disini adalah orang yang paling utama kita hormati, meskipun guru itu lebih muda daripada kita. Karena ilmu itu bukan dari sebab tuanya seseorang tapi dari pengetahuannya tentang suatu masalah yang kemudian dia berikan penjelasan kepada kita, dan akhirnya kita yang tidak tahu akan menjadi tahu.
B.Saran
Saran saya adalah “Hormatilah semua komponen di dunia ini sebab barangsiapa menghormati seseorang maka dia akan dihormati juga tanpa terkecuali.”
DAFTAR PUSTAKA
Al-Qur’an dan Terjemah,departemen Agama Republik Indonesia, (Jakarta : CV Toha Putra)
H. Moh. Ardani, Akhlak Tasawuf, (PT. Mitra Cahaya Utama, 2005), Cet ke-2,
http://delsajoesafira.blogspot.com/2010/04/akhlak-anak-terhadap-orang-tua-dan.html
Kamus Bahasa Indonesia (Jakarta : Reality Publisher)
Mohammad Mansur, Aqidah Ahlak II, (Jakarta : Ditjen Binbaga Islam Departemen Agama Islam, 1998)

https://acehmillano.wordpress.com/2016/03/06/akhlak-murid-terhadap-guru-dan-akhlak-guru-terhadap-murid/